Beranda / News / Mengapa Masalah Gigi Begitu Besar di Indonesia?

Mengapa Masalah Gigi Begitu Besar di Indonesia?

woman in black long sleeve shirt holding baby in pink long sleeve shirt

Medis360.id | Data Kesehatan | Kesehatan Gigi

Masalah kesehatan gigi ternyata menjadi salah satu temuan paling menonjol dalam Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) Kementerian Kesehatan. Ketika lebih dari 8,2 juta orang telah mengikuti CKG pada Juni 2025, Kemenkes melaporkan masalah gigi dan mulut bersama hipertensi dan diabetes sebagai temuan kesehatan yang banyak ditemukan. Beberapa bulan kemudian, setelah jumlah peserta mencapai lebih dari 50,5 juta orang, persoalan gigi tetap terlihat kuat dalam data CKG. Pada kelompok remaja dan pelajar, 50,3% peserta yang diperiksa mengalami karies gigi. Pada balita dan anak prasekolah, 31,5% tercatat memiliki masalah gigi tidak sehat.

Temuan tersebut penting karena CKG bukan sekadar survei persepsi masyarakat. Program ini melakukan pemeriksaan kesehatan langsung dan dirancang untuk menemukan penyakit serta faktor risiko yang sebelumnya mungkin belum diketahui peserta. Karena itu, data CKG memberikan gambaran mengenai masalah kesehatan yang ditemukan ketika masyarakat benar-benar diperiksa. Namun, ada satu batasan penting: angka CKG merupakan proporsi di antara peserta yang diperiksa, bukan otomatis prevalensi seluruh penduduk Indonesia. Dengan demikian, angka 50,3% tidak boleh ditulis sebagai “50,3% seluruh remaja Indonesia mengalami karies”.

Bukan Sekadar Tidak Rajin Menyikat Gigi

Mengapa masalah gigi begitu besar? Jawabannya tidak dapat direduksi menjadi satu faktor. Karies merupakan penyakit multifaktor yang berkaitan dengan interaksi bakteri di rongga mulut, konsumsi gula, kebersihan gigi, paparan fluorida, kondisi biologis, perilaku, serta akses terhadap pencegahan dan perawatan. Karena itu, menyalahkan pasien sebagai “malas merawat gigi” justru menyederhanakan persoalan.

Kemenkes sendiri pada Juni 2025 menekankan pentingnya edukasi kesehatan gigi sejak usia dini sekaligus pemerataan layanan. Dalam kesempatan tersebut Kemenkes menyebut Indonesia memiliki 53.886 dokter gigi, tetapi hanya 699 dokter gigi spesialis. Pemerataan tenaga dan layanan menjadi bagian penting dari strategi menghadapi persoalan kesehatan gigi.

Masalahnya juga bukan sekadar apakah seseorang menyikat gigi atau tidak. Health literacy menentukan apakah seseorang memahami cara pencegahan yang benar, kapan harus memeriksakan gigi, bagaimana mengendalikan konsumsi gula, serta kapan keluhan yang tampak ringan sebenarnya membutuhkan pemeriksaan profesional. Seseorang dapat menyikat gigi setiap hari tetapi tetap mempunyai risiko karies apabila teknik dan waktunya tidak tepat, konsumsi gula tinggi, atau tidak pernah mendapatkan pemeriksaan gigi.

Masalah Sudah Dimulai Sejak Anak dan Remaja

Data CKG 2025 menunjukkan bahwa persoalan tersebut sudah terlihat pada kelompok usia sekolah. Kemenkes melaporkan karies pada 50,3% remaja dan pelajar yang diperiksa. Ini bukan sekadar persoalan kosmetik. Karies dapat menyebabkan nyeri, gangguan makan dan tidur, gangguan aktivitas, infeksi, hingga kehilangan gigi. Pada anak dan remaja, masalah kesehatan gigi juga dapat mengganggu proses belajar dan kualitas hidup.

Temuan pada kelompok anak usia lebih muda juga menunjukkan bahwa pencegahan tidak dapat dimulai ketika anak sudah mengeluh sakit. Jika masalah gigi telah muncul sejak usia dini, intervensi harus dimulai dari keluarga dan sekolah, kemudian diteruskan melalui puskesmas serta fasilitas pelayanan kesehatan. Kemenkes sendiri telah menempatkan pelayanan kesehatan gigi dan mulut sebagai bagian dari pelayanan kesehatan primer untuk ibu, anak, usia sekolah, remaja, dewasa, dan lansia.

Apakah Penyebab Utamanya Biaya?

Pertanyaan mengenai biaya sangat relevan, tetapi data CKG 2025 tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa biaya merupakan penyebab utama tingginya masalah gigi. CKG menunjukkan apa yang ditemukan melalui pemeriksaan, bukan secara langsung mengukur hubungan antara pendapatan keluarga, biaya pelayanan, kepesertaan JKN, akses fasilitas, dan kejadian karies.

Karena itu, pernyataan “masyarakat Indonesia mengalami banyak masalah gigi karena tidak mampu membayar dokter gigi” tidak dapat disebut sebagai kesimpulan berdasarkan data CKG. Biaya mungkin menjadi salah satu hambatan dalam memperoleh perawatan, tetapi untuk membuktikan besarnya pengaruh biaya diperlukan analisis khusus mengenai pemanfaatan layanan kesehatan gigi dan faktor sosial ekonomi.

Justru persoalan akses jauh lebih luas daripada harga pelayanan. Jarak menuju fasilitas, ketersediaan dokter gigi, waktu tunggu, jam pelayanan, biaya transportasi, kehilangan waktu kerja, serta kemampuan memperoleh perawatan lanjutan semuanya dapat menentukan apakah seseorang benar-benar mendapatkan pelayanan ketika membutuhkan.

Masalah Berikutnya: Datang Ketika Sudah Sakit

Kesehatan gigi juga menghadapi persoalan perilaku mencari pengobatan. Banyak orang baru menganggap masalah gigi sebagai masalah kesehatan ketika sudah menimbulkan nyeri. Padahal karies dapat berkembang sebelum rasa sakit menjadi berat. Akibatnya, pemeriksaan preventif sering kalah prioritas dibanding pengobatan ketika penyakit sudah mengganggu aktivitas.

Kemenkes pada September 2025 menyebut sekitar 57% masyarakat mengalami masalah gigi dan hanya sekitar 11% yang mencari pengobatan. Kemenkes juga menyoroti karies, gigi tanggal, dan radang gusi serta rendahnya literasi kesehatan gigi sebagai bagian dari persoalan tersebut.

Data tersebut berasal dari sumber kesehatan nasional yang berbeda dengan CKG sehingga tidak boleh digabungkan sebagai satu angka prevalensi. Namun, keduanya memberikan pesan yang konsisten: beban masalah gigi tinggi, sementara pemanfaatan layanan masih rendah.

Konsumsi Gula Tidak Bisa Diabaikan

Pencegahan karies juga tidak dapat hanya dibebankan kepada perilaku menyikat gigi. Konsumsi gula merupakan bagian penting dari rantai risiko. Frekuensi paparan gula terhadap gigi, terutama melalui makanan dan minuman berpemanis, dapat meningkatkan risiko terjadinya karies. Karena itu, kebijakan kesehatan gigi tidak cukup hanya berupa kampanye menyikat gigi.

Lingkungan keluarga dan sekolah ikut menentukan. Kebiasaan jajan, ketersediaan minuman berpemanis, pilihan makanan di kantin, pola konsumsi keluarga, serta edukasi mengenai makanan dan minuman semuanya dapat memengaruhi kesehatan gigi anak. Pendekatan pencegahan harus bergerak dari ruang praktik dokter gigi ke lingkungan tempat anak hidup dan belajar.

CKG Menemukan Masalah, Tetapi Tantangan Terbesarnya Adalah Tindak Lanjut

Program CKG telah memberikan sesuatu yang sangat berharga bagi sistem kesehatan Indonesia: kemampuan menemukan masalah dalam skala besar. Namun, skrining bukanlah tujuan akhir. Nilai CKG akan ditentukan oleh apa yang terjadi setelah seseorang dinyatakan memiliki masalah kesehatan.

Untuk kesehatan gigi, pertanyaan berikutnya harus lebih konkret: berapa banyak anak dengan karies mendapatkan perawatan? Berapa banyak yang dirujuk? Berapa banyak keluarga memperoleh edukasi? Berapa banyak kasus yang berhasil dicegah agar tidak berkembang menjadi kerusakan lebih berat?

Kemenkes pada 2026 kembali melaporkan bahwa karies gigi tetap menjadi masalah utama yang ditemukan CKG di berbagai kelompok usia, bersama sejumlah masalah kesehatan lainnya. Ini memperkuat bahwa temuan gigi pada CKG bukan sekadar fenomena pada fase awal program.

Jadi, Apa Penyebab Besarnya Masalah Gigi Indonesia?

Data yang tersedia tidak mendukung satu penyebab tunggal. Masalah kesehatan gigi Indonesia lebih tepat dipahami sebagai pertemuan beberapa faktor: risiko biologis, konsumsi gula, perilaku kebersihan mulut, rendahnya literasi kesehatan gigi, kebiasaan mencari pertolongan setelah muncul nyeri, akses terhadap dokter gigi, pemerataan tenaga kesehatan, kemampuan ekonomi, serta kesinambungan pelayanan setelah skrining.

Dengan demikian, biaya bukan jawaban tunggal, dan kurang pengetahuan juga bukan jawaban tunggal. Keduanya merupakan bagian dari sistem yang lebih besar.

Yang paling menarik dari CKG 2025 justru bukan sekadar angka kariesnya. Program tersebut memperlihatkan adanya kesenjangan antara masalah yang ditemukan dan kemungkinan kebutuhan pelayanan yang harus ditindaklanjuti. Jika separuh peserta dalam kelompok tertentu ditemukan mengalami karies, maka persoalan berikutnya bukan lagi bagaimana menemukan pasien, tetapi bagaimana sistem kesehatan mampu memberikan pencegahan dan perawatan dalam skala yang sama.

CKG 2025 mengubah cara Indonesia melihat masalah kesehatan gigi. Persoalannya bukan sekadar masyarakat kurang rajin menyikat gigi atau tidak mempunyai cukup uang untuk pergi ke dokter gigi. Di belakang tingginya temuan karies terdapat persoalan pencegahan, pola konsumsi, literasi kesehatan, perilaku mencari pertolongan, akses pelayanan, distribusi tenaga kesehatan, pembiayaan, dan tindak lanjut.

Karena itu, jawaban terhadap masalah gigi Indonesia tidak cukup dengan kampanye “sikat gigi dua kali sehari”. Indonesia membutuhkan sistem yang membuat pencegahan mudah dilakukan, pemeriksaan tersedia sejak usia dini, masalah ditemukan sebelum menjadi berat, dan setiap temuan CKG mendapatkan tindak lanjut yang nyata.

CKG telah menemukan masalahnya. Tantangan berikutnya adalah memastikan sistem kesehatan mampu menyelesaikannya.

Sumber utama: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, publikasi Program Cek Kesehatan Gratis 2025–2026 dan kebijakan pelayanan kesehatan gigi dan mulut.

Tag: