Beranda / Kesehatan untuk Rakyat / Kanker Serviks di Indonesia: Epidemi Meningkat Cepat, Skrining Rendah, dan Beban Kematian Tinggi

Kanker Serviks di Indonesia: Epidemi Meningkat Cepat, Skrining Rendah, dan Beban Kematian Tinggi

a woman with her back to the camera

Kanker serviks masih menjadi salah satu ancaman kesehatan terbesar bagi perempuan Indonesia. Data terbaru menunjukkan tren peningkatan kasus yang signifikan dalam satu dekade terakhir, sementara tingkat skrining nasional masih jauh dari standar minimal yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Kondisi ini membuat kanker serviks tetap menjadi penyebab utama kematian akibat kanker pada perempuan.

Insidensi Meningkat, Menjadi Kanker Kedua Paling Umum

Pada tahun 2023, Indonesia mencatat 36.964 kasus baru kanker serviks, dengan tingkat insidensi 23,3 per 100.000 wanita. Angka tersebut menjadikan kanker serviks sebagai kanker kedua paling umum pada perempuan, menyumbang 17,2% dari seluruh kasus kanker wanita.

Data nasional sebelumnya menunjukkan pola yang terus meningkat:

  • Globocan 2018: 32.469 kasus
  • Globocan 2022: >36.000 kasus
  • Tahun 2023: 36.964 kasus

Kenaikan insidensi ini berbanding lurus dengan rendahnya cakupan deteksi dini dan masih dominannya kasus yang ditemukan pada stadium lanjut.

Kematian Tinggi dan Stabil Dalam Satu Dekade

Di tengah meningkatnya jumlah kasus baru, tingkat kematian akibat kanker serviks tetap tinggi. Pada 2021, tercatat 21.003 kematian, setara dengan 19,1% dari seluruh kematian akibat kanker pada perempuan.

Secara umum, laporan Globocan memperkirakan:

≥20.000 kematian setiap tahun

54 perempuan meninggal setiap hari, atau 1 kematian setiap 26 menit

Angka kematian ini belum menunjukkan penurunan signifikan karena sebagian besar pasien datang pada stadium III–IV, ketika efektivitas terapi sudah menurun drastis.

70% Kasus Ditemukan pada Stadium Lanjut

Hingga 2025, diperkirakan 2 dari 3 perempuan di Indonesia masih terdiagnosis pada stadium akhir. Dalam laporan epidemiologi nasional, 70% kasus kanker serviks ditemukan pada stadium lanjut, sehingga menurunkan peluang kesembuhan dan meningkatkan risiko kematian hingga 50% pada pasien stadium akhir.

Kondisi ini menandai adanya permasalahan serius dalam deteksi dini, edukasi masyarakat, dan akses kesehatan primer, terutama di wilayah menengah-bawah.

Skrining: Hanya 7,02% Perempuan yang Tersaring

Rendahnya cakupan skrining menjadi salah satu penyebab utama tingginya insidensi dan mortalitas.

Pada 2023, cakupan skrining kanker serviks melalui tes IVA pada perempuan usia 30–50 tahun hanya mencapai:

➡ 7,02%

Angka ini jauh dari:

Target WHO: 70% cakupan skrining

Target Indonesia 2030: ≥50% cakupan IVA atau pap smear

Skrining rendah menyebabkan deteksi dini tertinggal jauh. Padahal, kanker serviks adalah salah satu kanker yang paling mudah dicegah melalui:

  • vaksinasi HPV
  • skrining berkala (IVA/Pap smear/HPV DNA test)

Setiap Hari: 98 Kasus Baru, 54 Kematian

Dengan tren epidemiologi saat ini, Indonesia menghadapi beban penyakit yang besar:

  • 98 perempuan terdiagnosis kanker serviks setiap hari
  • 54 perempuan meninggal setiap hari

Artinya, pada setiap jam yang berlalu, empat perempuan Indonesia didiagnosis kanker serviks, dan dua di antaranya meninggal.

Faktor Pendorong Epidemi

  1. Rendahnya skrining (7,02%)
    Mayoritas perempuan belum melakukan pemeriksaan IVA, Pap smear, atau HPV DNA test.
  2. Tingginya diagnosis stadium lanjut (70%)
    Terapi menjadi tidak efektif, meningkatkan mortalitas hingga 50%.
  3. Akses layanan yang tidak merata
    Wilayah terpencil masih minim fasilitas deteksi dini dan edukasi.
  4. Rendahnya vaksinasi HPV pada populasi muda
    Belum semua daerah menjalankan vaksinasi penuh untuk anak perempuan usia sekolah.
  5. Kurangnya literasi kesehatan reproduksi
    Banyak perempuan tidak menyadari gejala awal atau risiko infeksi HPV.

Kanker serviks merupakan epidemi yang masih berkembang di Indonesia. Dengan insidensi yang terus meningkat, kematian yang stabil tinggi, dan cakupan skrining yang sangat rendah, Indonesia perlu melakukan langkah percepatan nasional melalui:

  • perluasan vaksinasi HPV
  • peningkatan skrining populasi 30–50 tahun
  • kampanye literasi kesehatan yang agresif dan terukur
  • penguatan layanan primer dan rujukan cepat

Tanpa intervensi komprehensif, beban kanker serviks diperkirakan terus meningkat dalam 10 tahun ke depan.

PANDUAN MENCEGAH KANKER SERVIKS

  1. Anak (Usia 9–13 tahun)

Fokus utama: perlindungan sejak dini sebelum terpapar HPV — penyebab 99% kanker serviks.

A. Vaksinasi HPV

Usia optimal: 11–12 tahun (bisa mulai 9 tahun).

Dosis:

  • 9–14 tahun → 2 dosis (interval 6–12 bulan).
  • Tempat: Puskesmas, sekolah (program BIAS), rumah sakit, atau klinik.
  • Biaya: Bisa gratis melalui program pemerintah untuk siswi kelas 5 SD.

B. Edukasi Kesehatan Reproduksi (Usia Anak)

Ajarkan pemahaman kebersihan area genital:

  • Cuci dari depan ke belakang.
  • Ganti celana dalam 2× sehari.
  • Gunakan bahan katun.
  • Hindari penggunaan sabun pewangi / antiseptik kuat.

C. Pencegahan Kekerasan Seksual

  • Ajarkan batas tubuh pribadi, dan anak harus langsung melapor jika disentuh tidak pantas.
  • Orang tua harus membangun komunikasi terbuka.

  1. Remaja (14–19 tahun)

Fokus: pencegahan paparan HPV dan perilaku berisiko.

A. Lengkapi Vaksin HPV (Jika Belum)

Remaja 15+ tahun memerlukan 3 dosis (0–1/2–6 bulan).

B. Edukasi Seksual Komprehensif

Agar remaja:

  • Menghindari perilaku seksual berisiko.
  • Memahami bahwa HPV menular melalui kontak kulit ke kulit, bukan hanya hubungan penetratif.
  • Mengetahui pentingnya konsistensi menggunakan kondom (meski tidak melindungi 100%).

C. Pola Hidup Sehat

  • Cegah aktivitas yang menurunkan imun: kurang tidur, rokok pasif/aktif, alkohol.
  • Tingkatkan konsumsi sayur hijau, buah kaya antioksidan, susu, yoghurt.

D. Kebersihan Organ Reproduksi

  • Hindari penggunaan pembersih kewanitaan yang berpewangi.
  • Ganti pembalut tiap 4–6 jam saat menstruasi.
  1. Wanita Dewasa (20–45 tahun)

Fokus utama: skrining, imunisasi, dan perilaku seksual aman.

A. Skrining Rutin

  • Pap smear: setiap 3 tahun untuk usia 21–65 tahun.
  • Tes HPV DNA: setiap 5 tahun (lebih sensitif).
  • Tes IVA (yang paling murah dan cepat): setiap 3 tahun.
  • Mulai skrining meski belum menikah, selama sudah pernah berhubungan seksual.

B. Vaksin HPV untuk Dewasa

  • Masih sangat efektif hingga usia 45 tahun.
  • Rekomendasi medis: semakin cepat divaksin, semakin tinggi perlindungan.

C. Hindari Faktor Risiko

  • Merokok meningkatkan risiko kanker serviks hingga 2×.
  • Berganti-ganti pasangan meningkatkan paparan HPV.
  • Gunakan kondom untuk menurunkan risiko infeksi menular seksual.

D. Pola Hidup dan Imun yang Baik

  • Konsumsi makanan kaya vitamin A, C, E, folat.
  • Olahraga 30 menit, 5 hari per minggu.
  • Tidur 7–8 jam per hari.
  1. Wanita Menjelang Menopause (45+ tahun)

A. Skrining Wajib Dilanjutkan

  • Pap smear / HPV DNA tetap dilakukan hingga usia 65 tahun.
  • Hentikan hanya jika:
  • Riwayat hasil pemeriksaan normal selama 10 tahun terakhir atau
  • Telah menjalani histerektomi total karena alasan non-kanker.

B. Jaga Imunitas

Pada usia ini, sistem imun melemah sehingga risiko HPV persisten lebih tinggi.

PANDUAN PERAWATAN PENYINTAS KANKER SERVIKS (SURVIVOR)

Fokus: mencegah kekambuhan, menjaga kualitas hidup, dan kesehatan organ reproduksi.

  1. Kontrol Medis Berkala
  • 2 tahun pertama: kontrol setiap 3 bulan.
  • Tahun 3–5: setiap 6 bulan.
  • Setelah 5 tahun: 1× per tahun.

Dokter akan memantau:

  • Kekambuhan lokal atau metastasis
  • Efek samping radioterapi atau kemoterapi
  • Fungsi kandung kemih dan usus
  1. Nutrisi dan Pola Makan
  • Tinggi antioksidan: brokoli, bayam, tomat, berry.
  • Tinggi protein: ikan laut, telur, tahu/tempe, Greek yoghurt.
  • Hindari: makanan bakaran, olahan tinggi nitrit, minuman berpemanis tinggi.
  • Tujuan nutrisi: menjaga imunitas dan memperbaiki jaringan rusak pascaterapi.
  1. Perawatan Area Vagina & Sistem Reproduksi

Radioterapi dapat menyebabkan kekeringan dan jaringan parut pada vagina.

Manajemen:

  • Gunakan pelumas berbahan air saat hubungan seks.
  • Gunakan vaginal moisturizer 2–3× seminggu.
  • Ambil latihan dilator vagina sesuai instruksi dokter untuk mencegah penyempitan.
  1. Kesehatan Mental

Kecemasan tentang kekambuhan itu normal.

Anjuran:

  • Konseling dengan psikolog klinis
  • Terapi kelompok penyintas
  • Latihan mindfulness atau zikir/meditasi 10 menit per hari
  • Aktivitas sosial dan hobi teratur
  1. Aktivitas Fisik
  • Jalan cepat 20–30 menit setiap hari.
  • Stretching panggul untuk mengurangi nyeri pascaradioterapi.
  • Hindari angkat beban ekstrem jika masih dalam masa pemulihan.
  1. Tanda Bahaya yang Wajib Diwaspadai

Hubungi dokter bila muncul:

  • Perdarahan vagina tidak normal
  • Nyeri panggul terus-menerus
  • Penurunan berat badan tanpa sebab
  • Pembengkakan kaki
  • Gangguan buang air kecil/besar

Keterlambatan deteksi kekambuhan dapat membahayakan keselamatan.

Redaksi Medis360.ID