Tahun 2025 menjadi tahun kelam bagi kesehatan masyarakat Indonesia, di mana Demam Berdarah Dengue (DBD) merebak bak api liar, mencatat 131.393 kasus hingga akhir Oktober dengan 544 nyawa melayang.
Lonjakan ini tak hanya menjadikan DBD sebagai penyakit paling menular dan mematikan musim panas tahun ini, tapi juga mengalahkan penyakit kronis seperti tuberkulosis (TBC) dalam hal kecepatan penyebaran. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melaporkan fatality rate DBD mencapai 0,4%, dengan puncaknya di Jawa yang menyumbang lebih dari separuh kasus nasional.
Sementara TBC menghantui dengan estimasi 1,09 juta kasus hingga Maret, kematiannya lebih tersebar dan kurang eksplosif dibanding DBD yang dipicu nyamuk Aedes aegypti.
Cuaca ekstrem—hujan deras di awal tahun dan kekeringan kemarau—menjadi bensin bagi epidemi ini. “Nyamuk lebih mematikan daripada harimau,” tegas Kemenkes dalam kampanye mereka, mengingatkan masyarakat akan ancaman vektor yang tak terlihat.
Data Situasi Penyakit Infeksi Emerging menunjukkan DBD mendominasi 87% wilayah Indonesia, sementara penyakit lain seperti COVID-19 stabil dan HIV mencapai 564.000 orang dengan HIV (ODHIV).
Ledakan DBD: Dari Awal Tahun Hingga Puncak Musim Hujan
Perjalanan DBD di 2025 dimulai dengan gejolak. Hingga Februari, 10.752 kasus dan 48 kematian tersebar di 36 provinsi, naik tajam dari Desember 2024. Maret-Agustus menyusul lonjakan, hingga Juni total 67.030 kasus dengan 297 meninggal—kenaikan 40% year-on-year.
Jawa Barat jadi episentrum, dengan 17.281 kasus (26% nasional) dan 61 kematian hingga pertengahan tahun. Kabupaten Karawang catat 6.567 kasus, Kota Bekasi 3.291, dan Bandung 2.742, membebani RS setempat.
Distribusi provinsi terburuk hingga Juni: Jawa Timur (~15.000 kasus, 57 kematian), Jawa Tengah (~12.000 kasus, 53 kematian), dan Sumatera Selatan yang melonjak signifikan.
Hingga Oktober, total nasional tembus 131.393, dengan proyeksi akhir tahun melebihi 140.000 jika tren berlanjut. Anak-anak usia 5-14 tahun paling rentan, menyumbang 40% korban, diikuti balita. Sumber: Kemenkes & Databoks. Data akhir tahun menunggu rilis resmi Desember.
TBC: Pembunuh Diam-Diam dengan Jutaan Korban
Tak kalah mengerikan, TBC tetap raja penyakit infeksi di Indonesia, nomor dua dunia setelah India. Estimasi 1,09 juta kasus aktif hingga Maret, dengan notifikasi 66.797—pemerintah targetkan 981.000 temuan sepanjang tahun. Kematian mencapai ~51.000 per tahun, atau 14 orang per jam, akibat resistensi obat dan diagnosis terlambat. Gerakan Nasional Akhiri TBC 2030 digalakkan, tapi tantangan urbanisasi dan kemiskinan memperburuknya.
Penyakit Saingan: HIV, ISPA, dan Infeksi EmergingHIV tembus 564.000 ODHIV hingga Juni, dengan 63% terdeteksi—peningkatan akses tes ARV jadi kunci. ISPA di DKI saja 1,9 juta kasus Januari-Oktober, musiman tapi tak nasional dominan. Infeksi emerging seperti Mpox atau Legionellosis hanya puluhan kasus, jauh di bawah DBD.
Akar Masalah: Iklim, Sosial, dan Respons Lambat
Perubahan iklim jadi biang kerok utama: suhu naik 1-2°C percepat siklus nyamuk dari 7 ke 5 hari.
Genangan air musim hujan dan air tergenang kemarau ciptakan sarang ideal. Di sisi sosial, urbanisasi Jakarta dan Jawa padat penduduk perburuk penyebaran. Kemenkes responsif dengan fogging 1,2 juta rumah, vaksin dengue Takeda, dan 3M Plus (Menguras, Menutup, Mengubur, dll.). Biaya pengobatan DBD capai Rp 15-20 triliun, TBC Rp 50 triliun. Untuk TBC, skrining massal dan obat generik didorong, tapi akses pedesaan lemah. Ahli epidemiologi memperingatkan: tanpa eliminasi sarang nyamuk 90%, 2026 bisa lebih parah. Pemerintah pusat-provinsi koordinasi via SKDR, tapi data akhir tahun masih ditunggu untuk strategi 2026.
Harapan di Ujung Tahun: Vaksin dan Kesadaran
Meski kasus DBD turun 10% akhir tahun berkat intervensi, ancaman tetap nyata. Kampanye “Indonesia Bebas DBD 2026” dan target TBC nol kematian jadi prioritas Presiden Prabowo. Masyarakat didesak waspadai gejala demam tinggi >3 hari, perdarahan, dan batuk kronis TBC. Tahun 2025 jadi pelajaran pahit: kesehatan bukan sekadar angka, tapi nyawa jutaan rakyat.
Redaksi Medis360.ID










