Secercah Harapan: Vaksin Baru Sedang Diuji di Indonesia
Di tengah beratnya beban TBC, ada kabar yang memberi harapan nyata: vaksin TBC generasi baru sedang menjalani uji klinis fase 3 — dan Indonesia menjadi salah satu negara terpilih untuk mengujinya.
Vaksin kandidat M72/AS01E, yang dikembangkan oleh GlaxoSmithKline (GSK) dengan dukungan Gates Foundation, sedang menjalani uji klinis fase 3 global yang dimulai sejak Maret 2024, melibatkan total 20.081 partisipan dari lima negara. Indonesia berkontribusi sebanyak 2.095 partisipan, dengan rekrutmen yang telah selesai pada April 2025. Kemkes
Prof. Erlina Burhan, peneliti utama nasional vaksin TBC, menjelaskan bahwa dalam uji klinis fase 2b sebelumnya, vaksin M72/AS01E menunjukkan perlindungan sekitar 50% terhadap TBC paru pada orang dewasa dengan infeksi laten. WHO memperkirakan bahwa jika tingkat perlindungan ini terbukti dalam skala yang lebih luas, vaksin ini berpotensi menyelamatkan 8,5 juta jiwa, mencegah 76 juta kasus baru TBC, dan menghemat biaya hingga USD 41,5 miliar bagi keluarga terdampak dalam 25 tahun ke depan. Kemkes

Di antara sekitar 15 kandidat vaksin TBC yang sedang dikembangkan secara global, M72 adalah yang paling maju karena telah mencapai fase 3 — tahap terakhir sebelum sebuah vaksin dapat memperoleh izin edar. Seluruh rangkaian uji klinis ini diharapkan selesai pada akhir 2028. Indonesia.go.id
BPOM resmi memberikan persetujuan uji klinis fase 3 vaksin M72 di Indonesia pada Mei 2025, setelah tim independen menyatakan vaksin ini telah memenuhi semua persyaratan etik, saintifik, dan keamanan. Badan Pengawas Obat dan Makanan Uji klinis dilaksanakan di sejumlah institusi medis terkemuka, termasuk RSUP Persahabatan, RS Universitas Indonesia, dan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran.
Namun harapan ini harus diimbangi dengan ekspektasi yang realistis. Vaksin yang menjanjikan di fase 3 belum tentu siap digunakan secara luas — ia masih harus melewati pembuktian efikasi penuh, persetujuan regulator di berbagai negara, dan kesiapan produksi massal. Vaksin M72 adalah masa depan yang sangat menjanjikan, bukan solusi untuk krisis hari ini.
Indonesia di Garis Depan — dan di Persimpangan
Secara global, TB kembali menjadi penyakit infeksi paling mematikan pada 2023, melampaui COVID-19, dengan sekitar 8,2 juta orang yang baru didiagnosis — angka tertinggi sejak WHO mulai memantau TBC secara global pada 1995. PAHO/WHO
Di tengah konteks global yang mengkhawatirkan ini, Indonesia tidak bisa bersantai. Pemerintah melalui Kemenkes kini mendorong berbagai strategi percepatan: penggunaan X-ray portabel untuk skrining massal, tes cepat molekuler dan PCR untuk diagnosis akurat, serta penguatan layanan berbasis komunitas. Pendekatan ini penting karena banyak kasus hanya bisa ditemukan jika petugas kesehatan aktif menjemput bola — tidak cukup menunggu pasien datang sendiri ke fasilitas kesehatan.
Kemenkes menetapkan target ambisius untuk 2025: deteksi 90% kasus, inisiasi pengobatan 100%, dan tingkat keberhasilan pengobatan di atas 80%. Kemkes Target yang, berdasarkan data saat ini, masih membutuhkan kerja keras luar biasa untuk dicapai.
Stigma sosial juga menjadi tembok yang belum roboh. Banyak orang enggan memeriksakan diri karena takut dikucilkan jika positif TBC. Akibatnya, diagnosis terlambat, pengobatan terlambat, dan penularan terus berlanjut dalam diam.
Yang Perlu Dipahami Publik
Pesan inti dari semua data ini sebenarnya sederhana: TBC bukan penyakit masa lalu yang sudah selesai. Ia masih hidup, masih menular, dan masih membunuh — setiap hari, di seluruh penjuru Indonesia.
Batuk yang berlangsung lebih dari dua minggu bukan sekadar batuk biasa yang perlu ditunggu sembuh sendiri. Itu adalah sinyal untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat. Pemeriksaan TBC tersedia gratis di puskesmas di seluruh Indonesia. Dan jika hasilnya positif, pengobatan harus dijalani hingga tuntas — tidak boleh berhenti di tengah jalan, meskipun gejala sudah membaik.
Dengan penanganan yang tepat, sekitar 85% penderita TBC dapat disembuhkan. World Bank Angka yang seharusnya memberi keyakinan, bukan ketakutan.
Eliminasi TBC pada 2030 bukan sekadar target pemerintah di atas kertas. Ia adalah janji untuk generasi berikutnya — bahwa penyakit yang sudah merenggut jutaan nyawa ini akhirnya bisa dihentikan. Tapi janji itu hanya bisa ditepati jika setiap orang — pasien, keluarga, tenaga kesehatan, pemerintah daerah, dan media — bergerak bersama, sekarang.
Sumber data: WHO Global Tuberculosis Report 2024 & 2025, Kementerian Kesehatan RI, BPOM RI, dan Kemkes.go.id
Redaksi Medis360.ID










