Beranda / Pharmaceuticals / Era Baru Terapi Ginjal

Era Baru Terapi Ginjal

Woman holding her sore lower back

Laporan Analisis Medis360.id

Selama bertahun-tahun, terapi penyakit ginjal kronis atau chronic kidney disease (CKD) terutama berfokus pada pengendalian penyebab dan faktor risikonya: gula darah, tekanan darah, albuminuria, serta penyakit penyerta. Kini arah terapi berubah. Sejumlah uji klinis besar menunjukkan bahwa beberapa obat yang awalnya dikenal sebagai terapi diabetes atau gangguan metabolik juga mampu mengurangi risiko progresi penyakit ginjal pada kelompok pasien tertentu.

Tetapi ada satu batas yang harus ditegaskan sejak awal: obat-obat tersebut tidak membuat ginjal yang sudah rusak kembali normal. Bukti klinis menunjukkan perlambatan penurunan fungsi ginjal dan penurunan risiko kejadian ginjal berat. Dalam bahasa yang lebih sederhana: bukan menyembuhkan ginjal, melainkan memperlambat perjalanan menuju kidney failure.

Dari Mengendalikan Gula ke Melindungi Organ

Perubahan terbesar datang dari SGLT2 inhibitor. Dapagliflozin dalam DAPA-CKD menurunkan risiko composite kidney/renal-cardiovascular outcome dengan HR 0,61. Yang membuat temuan ini penting, manfaat terlihat pada pasien dengan maupun tanpa diabetes. Canagliflozin dalam CREDENCE juga menurunkan risiko outcome ginjal primer sekitar 30 persen, sementara empagliflozin melalui EMPA-KIDNEY memperluas bukti manfaat tersebut pada populasi CKD yang lebih luas.

SGLT2 inhibitor bekerja dengan meningkatkan pengeluaran glukosa dan natrium melalui ginjal, memengaruhi tubuloglomerular feedback dan membantu menurunkan tekanan intraglomerular. Mekanisme ini menjelaskan mengapa manfaat renalnya tidak semata-mata bergantung pada penurunan gula darah. Namun untuk laporan berbasis evidence, mekanisme bukan bukti utama. Bukti terkuat tetap datang dari outcome pasien dalam randomized controlled trial.

Ada satu hal yang sering membingungkan pasien: setelah terapi SGLT2 inhibitor dimulai, eGFR dapat mengalami penurunan awal. Initial eGFR dip tidak otomatis berarti ginjal memburuk. Perubahan tersebut dapat merupakan efek hemodinamik obat yang kemudian diikuti stabilisasi. Meski demikian, terapi tetap membutuhkan pemilihan pasien dan monitoring.

Profil keamanannya juga harus dibaca utuh. Infeksi genital, infeksi saluran kemih, hipovolemia, dan ketoasidosis diabetik merupakan risiko yang perlu diperhatikan. Bukti mengenai acute kidney injury (AKI) juga mendukung profil yang secara keseluruhan tidak menunjukkan peningkatan risiko; tetapi AKI bukan hal yang sama dengan progresi CKD. Karena itu, bukti AKI merupakan data pendukung, bukan dasar utama klaim renoproteksi.

Finerenone: Bukti Lama, Pertanyaan Baru

Finerenone memberikan bab berikutnya. Dalam FIDELIO-DKD, pasien diabetes tipe 2 dengan CKD yang mendapat finerenone memiliki primary kidney outcome sekitar 17,8 persen dibandingkan 21,1 persen pada placebo, dengan HR 0,82. Manfaat tersebut datang bersama kebutuhan monitoring, terutama karena hyperkalemia-related discontinuation lebih tinggi pada kelompok finerenone, sekitar 2,3 persen dibandingkan 0,9 persen.

Lalu datang FIND-CKD pada 2026. Trial yang diterbitkan di New England Journal of Medicine melibatkan 1.584 pasien CKD tanpa diabetes. Hasilnya menunjukkan eGFR slope sekitar −3,3 dibandingkan −4,0 mL/min/1,73 m² per tahun dan composite kidney/cardiovascular outcome dengan HR 0,77. Hyperkalemia tercatat pada 17,0 persen kelompok finerenone dibandingkan 13,3 persen placebo.

Temuan ini sangat penting, tetapi tidak boleh diterjemahkan menjadi “finerenone kini menjadi terapi standar untuk semua CKD tanpa diabetes”. Populasi FIND-CKD memiliki karakteristik spesifik, termasuk eGFR 25 hingga <90, albuminuria UACR 200–3.500, serta penggunaan renin-angiotensin system inhibitor. Karena itu, kesimpulan yang lebih tepat adalah: bukti baru mulai memperluas potensi manfaat finerenone pada pasien CKD tanpa diabetes dengan karakteristik tertentu, sementara implikasinya terhadap guideline masih berkembang.

Halaman: 1 2

Tag: