Kementerian Kesehatan menyiapkan pengadaan 12 MRI melalui proyek penguatan jejaring rumah sakit rujukan. Nilainya diperkirakan US$21,78 juta. Empat unit menggunakan teknologi 3 Tesla dan delapan lainnya 1,5 Tesla. Pertanyaannya bukan hanya mengapa pemerintah membeli MRI, tetapi apa yang ingin dibangun dari investasi tersebut dan bagaimana masyarakat akhirnya memperoleh manfaatnya.
Sebuah mesin MRI dapat terlihat seperti investasi teknologi biasa. Mesin besar, ruang khusus, komputer, magnet berkekuatan tinggi, kemudian pasien masuk untuk menjalani pemeriksaan.
Namun bagi sistem kesehatan, ceritanya jauh lebih besar.
MRI merupakan bagian dari kemampuan rumah sakit untuk mendiagnosis penyakit yang membutuhkan pencitraan jaringan lunak secara detail. Teknologi ini banyak digunakan untuk pemeriksaan otak dan saraf, sendi dan otot, organ dalam, pembuluh darah, serta tumor dan kelainan jaringan lunak. Berbeda dari CT scan dan rontgen, MRI menggunakan medan magnet dan gelombang radio, bukan radiasi pengion.
Karena itu, ketika pemerintah membeli MRI, yang sebenarnya dibangun bukan hanya alat, tetapi kapasitas layanan diagnostik.
US$21,78 Juta untuk 12 MRI
Data resmi proyek Strengthening Indonesia’s Healthcare Referral Network (SIHREN) menunjukkan Kementerian Kesehatan membuka pengadaan 12 unit MRI, terdiri dari:
| Teknologi | Jumlah | Estimasi nilai |
|---|---|---|
| MRI 3 Tesla | 4 unit | US$12.510.409 |
| MRI 1,5 Tesla | 8 unit | US$9.272.997 |
| Total | 12 unit | US$21.783.406 |
Paket tersebut merupakan bagian dari SIHREN, program penguatan jejaring rumah sakit rujukan dengan pembiayaan bersama World Bank dan Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB). Status paket pada laman resmi pengadaan masih Technical Evaluation.
Artinya, angka US$21,78 juta bukan berarti pemerintah sudah membayar sebesar itu. Nilai tersebut adalah estimated total cost dalam dokumen pengadaan.
Hal ini penting karena informasi tentang belanja alat kesehatan sering kali berhenti pada angka anggaran. Padahal, antara rencana pengadaan dan alat yang benar-benar beroperasi masih terdapat proses tender, kontrak, pengiriman, instalasi, commissioning, dan pelatihan.
Dalam dokumen pengadaan, pengiriman 12 MRI tersebut direncanakan berlangsung pada periode 2026–2027. Dokumen klarifikasi juga menyebut bahwa pengadaan mencakup pengiriman, instalasi, pelatihan, dukungan operasional, dan pemeliharaan.
Dengan kata lain, US$21,78 juta bukan sekadar harga mesin.
Mengapa tidak semuanya 3 Tesla?
Pertanyaan berikutnya lebih menarik.
Jika 3 Tesla dianggap lebih canggih, mengapa pemerintah tidak membeli seluruhnya 3T?
Jawabannya karena 3 Tesla tidak otomatis lebih baik untuk semua kebutuhan klinis.
Tesla menunjukkan kekuatan medan magnet. Secara umum, MRI 3T memiliki signal-to-noise ratio lebih tinggi dibandingkan 1,5T. Keunggulan tersebut dapat dimanfaatkan untuk aplikasi tertentu, termasuk pencitraan neurologi, muskuloskeletal, dan sejumlah pemeriksaan kompleks.
Namun, semakin tinggi kekuatan medan magnet, semakin besar pula kebutuhan untuk mengelola aspek teknis, artefak, protokol pemeriksaan, dan keselamatan.
Karena itu, 1,5T tetap menjadi teknologi penting untuk banyak kebutuhan klinis rutin.
Pilihan 3T dan 1,5T dalam satu paket pengadaan menunjukkan bahwa kebutuhan sistem rujukan tidak dapat diselesaikan dengan satu spesifikasi untuk semua rumah sakit.
Teknologi harus mengikuti kebutuhan layanan.
MRI bukan pengganti CT scan
Kesalahpahaman lain yang perlu dihindari adalah menganggap MRI sebagai versi yang lebih canggih dari CT scan.
Keduanya memiliki fungsi berbeda.
CT scan memiliki keunggulan dalam kecepatan dan sangat penting dalam berbagai kondisi akut, termasuk trauma dan evaluasi perdarahan. MRI membutuhkan waktu pemeriksaan lebih lama, tetapi memberikan keunggulan pada banyak pemeriksaan jaringan lunak.
Dalam stroke akut, misalnya, CT sering menjadi pemeriksaan awal karena cepat dan tersedia luas. MRI kemudian dapat memberikan informasi tambahan pada kasus tertentu.
Karena itu, rumah sakit tidak dapat membangun layanan diagnostik hanya dengan membeli MRI.
Yang dibutuhkan adalah kombinasi teknologi, mulai dari rontgen, USG, CT scan, MRI, hingga pemeriksaan lanjutan. Masing-masing memiliki tempat dalam perjalanan diagnosis pasien.
Nilai MRI sebenarnya muncul setelah mesin beroperasi
Di sinilah investasi MRI menjadi persoalan manajemen rumah sakit.
Bayangkan sebuah MRI sudah tiba. Mesinnya tersedia, tetapi apakah ada dokter spesialis radiologi? Apakah radiografer tersedia? Apakah ruang dan infrastruktur memenuhi persyaratan? Apakah sistem penyimpanan dan distribusi gambar sudah terintegrasi? Apakah tersedia dokter spesialis yang membutuhkan pemeriksaan MRI? Dan yang paling penting, berapa banyak pasien yang akan diperiksa?
Mesin dengan kapasitas tinggi tetapi jarang digunakan akan menghasilkan nilai layanan yang berbeda dengan mesin yang bekerja optimal dalam sistem rujukan yang aktif.
Karena itu, keberhasilan investasi tidak cukup diukur dengan pernyataan bahwa rumah sakit memiliki MRI. Indikator yang lebih bermakna adalah berapa banyak kebutuhan pasien yang dapat dipenuhi karena MRI tersebut.
Ketika MRI mengubah layanan rumah sakit
Pengalaman sejumlah rumah sakit Indonesia menunjukkan bagaimana teknologi MRI dapat memiliki fungsi berbeda.
RSUD Kota Bogor: teknologi untuk rumah sakit rujukan
Pada 2021, Kementerian Kesehatan mencatat peresmian MRI 3 Tesla, CT Scan 128-slice, dan ESWL di RSUD Kota Bogor. Saat itu, Kemenkes mendorong pengembangan rumah sakit tersebut sebagai rumah sakit rujukan kelas A sekaligus rumah sakit pendidikan dan riset.
Kehadiran MRI ditempatkan bersama teknologi diagnostik lainnya, bukan sebagai investasi yang berdiri sendiri.
Profil resmi Kemenkes saat ini mencatat RSUD Kota Bogor sebagai rumah sakit umum daerah milik Pemerintah Kota Bogor dengan layanan radiologi dan berbagai layanan spesialistik.
Kasus Kota Bogor memperlihatkan bahwa investasi teknologi dapat menjadi bagian dari proses peningkatan kapasitas rumah sakit daerah.
RSUD Undata Palu: teknologi dan pemerataan layanan stroke
Di Palu, hubungan antara teknologi dan pemerataan layanan terlihat lebih konkret.
Kementerian Kesehatan mencatat RSUD Undata mendapatkan MRI 3 Tesla, Cathlab Biplane, dan high-speed drill untuk memperkuat layanan stroke. Rumah sakit tersebut kemudian berhasil melakukan operasi clipping aneurysma pertama di Sulawesi Tengah.
Nilainya bukan hanya pada keberadaan MRI.
Teknologi tersebut menjadi bagian dari ekosistem yang memungkinkan kasus kompleks ditangani di daerah.
Dalam konteks ini, manfaat investasi dapat diterjemahkan menjadi pertanyaan sederhana: apakah pasien masih harus pergi ke Jawa untuk mendapatkan layanan tertentu?
Jika jawabannya berubah dari “ya” menjadi “tidak”, maka investasi teknologi telah menghasilkan dampak sistemik.
RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro: MRI sebagai bagian dari cancer center
Pada layanan kanker, MRI dapat menjadi bagian dari ekosistem diagnosis dan perencanaan terapi.
RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro mengembangkan layanan onkologi dengan berbagai teknologi, termasuk MRI 3 Tesla, CT Scan, CT Simulator, LINAC, dan brachytherapy.
Di sini MRI tidak berdiri sendiri.
MRI mendukung rangkaian layanan yang lebih panjang, mulai dari diagnosis, staging, perencanaan terapi, radioterapi, hingga monitoring.
Artinya, nilai teknologi semakin besar ketika terhubung dengan layanan klinis yang lengkap.
Ada biaya setelah pembelian
Satu hal yang sering tidak terlihat dalam pemberitaan mengenai alat kesehatan adalah biaya setelah alat dibeli.
RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou Manado memberikan contoh menarik.
Laporan kinerja rumah sakit menyebut MRI 3T mulai beroperasi pada Mei 2025. Rumah sakit juga mencatat bahwa mulai beroperasinya MRI 3T ikut meningkatkan penggunaan listrik.
Artinya, sebuah MRI menghasilkan konsekuensi operasional. Ada listrik, pemeliharaan, kebutuhan teknisi, suku cadang, pelatihan, perangkat lunak, dan kebutuhan menjaga uptime.
Dalam dokumen pengadaan MRI 2026, bahkan terdapat persyaratan dan pembahasan mengenai uptime, warranty, serta comprehensive operations and maintenance.
Maka, menghitung nilai MRI hanya berdasarkan harga pembelian akan memberikan gambaran yang tidak lengkap.
Ke mana 12 MRI Kemenkes akan ditempatkan?
Pertanyaan ini justru menjadi salah satu bagian paling penting.
Dokumen tender Kemenkes mencantumkan Annex I – Final Destination of Procurement of MRI 3T & MRI 1.5T, yang menunjukkan bahwa pengadaan tersebut memang dirancang untuk dikirim ke fasilitas rumah sakit tertentu. Dokumen juga menunjukkan adanya jadwal pengiriman pada 2026–2027.
Namun, sampai tahap pengadaan yang tercatat saat ini, daftar tersebut tidak dapat digunakan untuk menyatakan bahwa 12 rumah sakit tertentu sudah menerima MRI.
Ini perbedaan penting antara rumah sakit yang sudah memiliki MRI, rumah sakit yang ditetapkan sebagai tujuan pengadaan, dan rumah sakit yang sudah menerima serta mengoperasikan MRI.
Ketiganya tidak boleh diperlakukan sebagai data yang sama.
MRI 1,5 Tesla juga bagian dari strategi
Investasi MRI Kemenkes tidak dimulai pada 2026.
Sebelumnya, SIHREN juga memiliki paket pengadaan MRI 1,5 Tesla. Dokumen proyek menunjukkan pengadaan tersebut sebagai bagian dari penguatan sistem rujukan. Dalam dokumen tender bahkan terdapat rujukan terhadap kebutuhan MRI 1,5T untuk Rumah Sakit Bahteramas.
Ini menunjukkan bahwa pengembangan kapasitas MRI berlangsung melalui beberapa paket dan tahap, bukan satu pembelian sekaligus.
Karena itu, angka 12 unit pada paket 2026 harus dibaca sebagai satu bagian dari pembangunan kapasitas pencitraan, bukan keseluruhan peta MRI nasional.
Apa yang sebenarnya dibeli pemerintah?
Jika dilihat lebih jauh, pemerintah sebenarnya tidak hanya membeli 12 mesin MRI.
Yang sedang dibangun adalah kapasitas diagnosis, kapasitas rumah sakit, kapasitas rujukan, dan akses pasien.
Jika teknologi tersebut ditempatkan di rumah sakit yang memiliki SDM dan layanan lanjutan, manfaatnya dapat meluas dari diagnosis hingga terapi.
Sebaliknya, apabila mesin tersedia tetapi tenaga, pemeliharaan, sistem rujukan, atau volume layanan tidak memadai, manfaat investasinya menjadi lebih kecil.
Karena itu, keberhasilan investasi MRI tidak seharusnya hanya diukur dengan jumlah unit yang berhasil dibeli.
Ukuran yang lebih penting adalah berapa pasien yang dapat diperiksa, berapa waktu tunggu yang dapat dipangkas, berapa kasus yang tidak lagi harus dirujuk keluar daerah, berapa layanan spesialistik yang dapat dikembangkan, dan akhirnya berapa besar kesenjangan akses diagnosis yang dapat dikurangi.
Dari mesin menjadi kapasitas kesehatan
US$21,78 juta adalah angka yang besar.
Namun, nilai sebenarnya dari investasi tersebut baru dapat dinilai setelah mesin beroperasi dan terhubung dengan sistem pelayanan.
MRI yang bekerja di tengah rumah sakit dengan dokter, radiografer, sistem rujukan, layanan spesialistik, dan pemeliharaan yang baik dapat menjadi pengungkit kapasitas kesehatan.
MRI yang hanya menjadi aset mahal di ruang radiologi tentu menghasilkan cerita yang berbeda.
Karena itu, pertanyaan paling penting tentang investasi MRI Kemenkes bukan berapa harga mesinnya, melainkan apa yang berubah setelah mesin itu digunakan.
Jawabannya akan menentukan apakah US$21,78 juta tersebut hanya menjadi belanja alat kesehatan atau benar-benar menjadi investasi untuk memperkuat sistem rujukan dan memperluas akses masyarakat terhadap layanan diagnostik bermutu.










