Beranda / Medical Voices / Setelah Era Kemoterapi: Bagaimana Pengobatan Kanker Berubah?

Setelah Era Kemoterapi: Bagaimana Pengobatan Kanker Berubah?

Terapi kanker kini tidak lagi hanya berbicara tentang bagaimana membunuh sel kanker. Ilmu onkologi bergerak menuju pengobatan yang semakin spesifik, berdasarkan karakteristik tumor, biomarker, sistem imun, dan kondisi setiap pasien. Kemoterapi tetap penting, tetapi bukan lagi satu-satunya senjata.

Selama puluhan tahun, kemoterapi menjadi salah satu simbol utama pengobatan kanker. Bagi banyak pasien, kata “kanker” hampir selalu diikuti bayangan infus, mual, rambut rontok dan berbagai efek samping lain. Kemoterapi memang telah menyelamatkan banyak kehidupan dan sampai sekarang masih menjadi bagian penting dalam tata laksana berbagai jenis kanker. Tetapi ilmu kedokteran telah berubah secara signifikan. Pemahaman tentang biologi kanker yang semakin dalam membuat dokter kini tidak hanya bertanya bagaimana menghancurkan tumor, tetapi juga mengapa tumor tumbuh, mutasi apa yang dimilikinya, bagaimana tumor menghindari sistem imun dan terapi apa yang paling sesuai untuk karakteristik penyakit tersebut.

Perubahan inilah yang menandai era baru pengobatan kanker. Dalam perkembangan modern onkologi, kemoterapi tidak menghilang, tetapi posisinya semakin menjadi bagian dari strategi terapi yang lebih luas. Pada jenis dan kondisi kanker tertentu, dokter dapat menggabungkan atau memilih antara pembedahan, radioterapi, kemoterapi, terapi hormonal, terapi target, imunoterapi dan pendekatan lain berdasarkan karakteristik pasien dan tumornya.

Prof. Dr. dr. Aru Wisaksono Sudoyo, salah satu tokoh hematologi-onkologi medik Indonesia, telah lama menekankan pentingnya memahami kanker dan pilihan terapinya secara lebih luas. Perkembangan imunoterapi, terapi target dan pengobatan berbasis biomarker menunjukkan bahwa kanker semakin dipandang sebagai penyakit yang harus ditangani secara individual, bukan sekadar berdasarkan nama organ tempat tumor ditemukan. Perkembangan riset Prof. Aru sendiri juga mencerminkan luasnya bidang tersebut, termasuk penelitian mengenai imunologi kanker dan terapi kanker presisi.

Dari “membunuh sel” menuju “mengenali target”

Kemoterapi konvensional bekerja terutama dengan menyerang sel yang membelah dengan cepat. Masalahnya, tidak semua sel yang tumbuh cepat adalah sel kanker. Karena itu, jaringan normal tertentu juga dapat terkena dampak terapi. Inilah salah satu alasan pasien dapat mengalami efek samping seperti mual, gangguan saluran cerna, kelelahan atau kerontokan rambut.

Terapi target membawa konsep yang berbeda. Obat dirancang untuk menghambat protein, gen atau jalur biologis tertentu yang berperan dalam pertumbuhan dan kelangsungan hidup kanker. Konsekuensinya, sebelum terapi diberikan, dokter dapat membutuhkan pemeriksaan biomarker untuk mengetahui apakah target tersebut terdapat pada tumor pasien.

Pendekatan ini membuat diagnosis kanker tidak berhenti pada pertanyaan “kankernya berada di organ mana?”. Pertanyaan berikutnya menjadi jauh lebih spesifik: karakter biologis kanker ini seperti apa?

Dari sinilah konsep precision oncology berkembang.

Imunoterapi mengubah cara memandang kanker

Salah satu perubahan terbesar dalam onkologi modern adalah berkembangnya imunoterapi.

Berbeda dengan kemoterapi yang secara langsung menyerang sel yang membelah, sebagian imunoterapi bekerja dengan membantu sistem kekebalan tubuh mengenali dan menyerang kanker. Sel kanker memiliki berbagai mekanisme untuk menghindari sistem imun. Salah satunya dengan memanfaatkan mekanisme immune checkpoint yang secara normal berfungsi sebagai rem sistem kekebalan.

Obat penghambat checkpoint dapat melepaskan sebagian “rem” tersebut sehingga sel imun kembali mampu menyerang tumor.

Tetapi imunoterapi bukan obat universal untuk semua pasien kanker. Respons pasien dipengaruhi oleh jenis kanker, karakteristik molekuler tumor, biomarker dan kondisi klinis. Pada beberapa kanker, pemeriksaan seperti ekspresi PD-L1 dapat menjadi salah satu faktor dalam menentukan pilihan terapi. Karena itu, istilah “imunoterapi” tidak seharusnya dipahami sebagai satu obat yang cocok untuk semua pasien.

Pengalaman klinis juga menunjukkan bahwa imunoterapi dapat memberikan hasil yang sangat berbeda antarjenis kanker. Pada sebagian pasien responsnya dapat bertahan lama, sementara pasien lain tidak mendapatkan manfaat yang sama. Karena itu, pemilihan pasien menjadi bagian penting dari perkembangan terapi ini.

Kemoterapi belum selesai

Perubahan besar dalam terapi kanker tidak berarti kemoterapi menjadi usang.

Sebaliknya, kemoterapi masih memiliki tempat penting dalam banyak jenis kanker. Bahkan dalam beberapa kondisi, kemoterapi justru digunakan bersama terapi baru untuk meningkatkan efektivitas pengobatan.

Dalam kanker tertentu, misalnya, imunoterapi diberikan bersama kemoterapi. Tujuannya bukan sekadar menggantikan kemoterapi, melainkan memanfaatkan mekanisme kerja yang berbeda untuk memperoleh hasil terapi yang lebih baik.

Karena itu, istilah “setelah era kemoterapi” sebaiknya tidak diterjemahkan sebagai “era tanpa kemoterapi”. Yang sebenarnya berubah adalah era ketika kemoterapi menjadi hampir satu-satunya senjata utama menuju era ketika dokter mempunyai berbagai senjata dan harus menentukan kombinasi yang paling tepat.

Bahkan data klinis yang berkembang saat ini menunjukkan bahwa kemoterapi masih terus digunakan dan diteliti dalam berbagai kombinasi. Penelitian mengenai atorvastatin, misalnya, masih dilakukan pada pasien kanker berisiko tinggi trombosis yang menjalani kemoterapi.

Kanker semakin diperlakukan sebagai penyakit individual

Perubahan paling penting mungkin bukan munculnya satu obat baru, melainkan perubahan cara dokter mengambil keputusan.

Dua pasien dengan nama diagnosis kanker yang sama belum tentu mempunyai kanker yang identik secara biologis. Mutasi, ekspresi protein, kondisi sistem imun, stadium, penyakit penyerta dan kondisi fisik dapat berbeda.

Karena itu, pengobatan modern semakin membutuhkan informasi yang lebih rinci sebelum terapi ditentukan.

Inilah alasan pemeriksaan jaringan tumor, pemeriksaan molekuler dan biomarker semakin penting dalam praktik onkologi. Pada pasien tertentu, informasi tersebut dapat membantu dokter menentukan apakah terapi target atau imunoterapi mempunyai peluang memberikan manfaat.

Dengan kata lain, pengobatan kanker bergerak dari pendekatan “one size fits all” menuju terapi yang lebih personal.

Perubahan juga terjadi pada cara melihat pasien

Kemajuan terapi kanker tidak hanya diukur dari kemampuan mengecilkan tumor.

Dokter kini semakin memperhatikan kualitas hidup, efek samping, fungsi organ, kondisi psikologis, nutrisi dan kemampuan pasien menjalani pengobatan dalam jangka panjang.

Hal ini penting karena terapi kanker dapat berlangsung lama. Prof. Aru, misalnya, pernah menjelaskan bahwa kemoterapi pada sejumlah kondisi dapat berlangsung beberapa siklus, sementara imunoterapi pada kondisi tertentu dapat diberikan dalam periode yang jauh lebih panjang. Lamanya terapi menjadi salah satu alasan sebagian pasien mengalami kelelahan dan bahkan menghentikan pengobatan sebelum waktunya.

Pendekatan multidisiplin kemudian menjadi semakin penting. Pasien kanker tidak hanya membutuhkan dokter onkologi, tetapi dapat membutuhkan ahli bedah, radioterapis, ahli patologi, radiologi, ahli gizi, perawat, psikolog dan tenaga kesehatan lainnya sesuai kebutuhan.

Model seperti ini telah diterapkan dalam berbagai pusat kanker melalui pertemuan multidisiplin untuk menentukan strategi terapi yang lebih tepat.

Harapan baru, tetapi bukan janji kesembuhan

Kemajuan terapi kanker membawa harapan besar, tetapi juga membutuhkan cara berkomunikasi yang hati-hati.

Imunoterapi bukan berarti semua kanker dapat disembuhkan. Terapi target bukan berarti bebas efek samping. Pengobatan presisi juga tidak selalu berarti tersedia target yang dapat diterapi pada setiap pasien.

Justru semakin maju ilmu kanker, semakin jelas bahwa penyakit ini sangat kompleks.

Ada kanker yang dapat dikendalikan dalam waktu panjang. Ada yang dapat disembuhkan bila ditemukan dan ditangani lebih awal. Ada pula kanker yang masih menjadi tantangan besar ketika ditemukan pada stadium lanjut.

Karena itu, kemajuan terapi seharusnya berjalan bersama peningkatan deteksi dini dan pencegahan. Prof. Aru juga berulang kali menyoroti persoalan keterlambatan diagnosis di Indonesia. Banyak pasien datang ketika penyakit sudah berada pada stadium lanjut, sehingga pilihan terapi menjadi lebih kompleks dan beban pengobatan meningkat.

Masa depan terapi kanker: semakin presisi

Jika kemoterapi mewakili era ketika dokter terutama berusaha membunuh sel kanker, maka era baru onkologi bergerak menuju pendekatan yang jauh lebih kompleks: mengenali kanker, menemukan kelemahannya, mengaktifkan sistem imun, memilih target biologis dan menyesuaikan terapi dengan karakteristik pasien.

Kemoterapi tetap berada di dalam peta tersebut. Namun kini ia berdiri berdampingan dengan imunoterapi, terapi target, terapi hormonal, radioterapi, pembedahan dan berbagai pendekatan baru yang terus berkembang.

Pertanyaan terbesar dalam pengobatan kanker masa depan mungkin bukan lagi, “Apa obat untuk kanker?”

Pertanyaannya menjadi jauh lebih spesifik:

Kanker yang mana? Pada pasien siapa? Memiliki karakter biologis seperti apa? Target apa yang tersedia? Dan terapi mana yang memberikan manfaat terbesar dengan beban sekecil mungkin?

Itulah perubahan paradigma yang sedang berlangsung dalam dunia onkologi.

Dan bagi pasien serta keluarga, perubahan ini membawa satu pesan penting: diagnosis kanker tidak otomatis berarti satu jenis pengobatan tertentu. Pilihan terapi harus ditentukan berdasarkan jenis kanker, stadium, karakteristik biologis tumor, kondisi pasien dan bukti ilmiah yang tersedia.

Kemoterapi belum berakhir. Tetapi era ketika kemoterapi menjadi satu-satunya wajah pengobatan kanker memang telah berubah.

Tag: