Banyak orang mengira bedah bariatrik hanyalah prosedur kecantikan atau jalan pintas demi mendapatkan bentuk tubuh ideal bak para selebriti. Persepsi ini telah melahirkan kesalahpahaman yang bertahan cukup lama di masyarakat. Padahal, dari kacamata medis, bedah bariatrik bukanlah cosmetic surgery, melainkan tindakan medis serius untuk menyembuhkan penyakit dan memulihkan kualitas hidup.
Dalam sebuah sesi wawancara di kanal YouTube Ruang Bertanya, dr. dr. Erawan Ramawana Wiradi Surya, Sp.B, Subsp.B.D.(K), M.Kes., pakar dan konsultan bedah digestif yang mendalami bedah metabolik dan bariatrik, mengupas tuntas fakta ilmu pengetahuan di balik prosedur ini.
Memahami Bariatrik dan Obesitas sebagai Penyakit Kronis
Istilah bariatrik secara harfiah merujuk pada seluruh usaha untuk menurunkan berat badan. Usaha ini meliputi empat pilar utama:
- Diet: Pengaturan pola makan nutrisi seimbang
- Olahraga: Aktivitas fisik rutin pembakar kalori
- Obat-obatan: Terapi farmakologis terawasi
- Bariatric Surgery: Prosedur pembedahan khusus
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sejak tahun 2013 telah menetapkan bahwa obesitas adalah sebuah penyakit kronis (obesity is a disease). Seseorang yang mengalami obesitas berisiko tinggi menderita berbagai penyakit penyerta yang dalam dunia medis dikenal sebagai komorbid.
Penyakit Komorbid yang Membayangi Penderita Obesitas
Operasi bariatrik dilakukan bukan untuk sekadar mengejar angka di timbangan, melainkan untuk mengurangi, mengontrol, atau bahkan menghilangkan penyakit komorbid berikut:
- Hipertensi dan gangguan irama jantung
- Obstructive Sleep Apnea (OSA): Kondisi ngorok hebat dan henti napas sejenak saat tidur
- Nyeri Sendi dan Lutut (Osteoarthritis): Beban tubuh berlebih menumpu pada lutut sehingga memicu kerusakan sendi
- Ketidakseimbangan Hormon: Mengakibatkan siklus menstruasi tidak teratur pada wanita usia subur
- Diabetes Melitus Tipe 2
- Batu empedu dan varises pada kaki
Siapa Saja yang Memenuhi Syarat Operasi Bariatrik?
Penetapan indikasi pasien yang boleh menjalani bedah bariatrik merujuk pada standar internasional, seperti International Federation for Obesity and Metabolic Disorder (IFSO) dan Asia Pacific Metabolic and Bariatric Surgery Society (APMBSS).
Indikator paling praktis yang digunakan dokter adalah Indeks Massa Tubuh (IMT / BMI), yaitu berat badan (kg) dibagi tinggi badan kuadrat (meter).
Kriteria Indikasi Medis Bedah Bariatrik:
- BMI ≥ 35 (Obesitas Tingkat 2 ke Atas): Langsung memenuhi syarat indikasi operasi tanpa melihat ada atau tidaknya komorbid.
- BMI 30–34,9 (Obesitas Tingkat 1): Boleh dioperasi apabila pasien memiliki minimal satu penyakit komorbid.
- Kasus Diabetes Khusus (BMI ≥ 27,5): Jika seseorang memiliki BMI 27,5 (kategori overweight), namun menderita diabetes lebih dari 10 tahun atau nilai HbA1c di atas 7,5%, ia diperbolehkan menjalani operasi bariatrik berdasarkan kesepakatan internasional.
Syarat Tambahan: Operasi ini diperuntukkan bagi pasien berusia 15 hingga 70 tahun yang telah mencoba metode diet, olahraga, dan obat-obatan namun terus mengalami efek yo-yo (berat badan naik-turun). Operasi juga wajib didasari niat pribadi, disiplin tinggi, serta dukungan penuh dari keluarga.
Teknologi Laparoskopi: Tidak Ada Sayatan Lebar
Sering kali masyarakat membayangkan bedah bariatrik sebagai operasi besar yang mengerikan dengan sayatan memanjang di perut. Kenyataannya tidak demikian.
Di era modern, tindakan ini dilakukan secara minimal invasif (laparoskopi). Dokter bedah hanya membuat 3 hingga 4 lubang kecil berukuran 5 mm sampai 12 mm di area perut (termasuk puser). Setelah selesai, luka dirapatkan menggunakan lem khusus manusia (human skin glue) tanpa perlu buka jahitan. Pasien umumnya sudah diperbolehkan pulang pada hari ke-2 atau ke-3.
Mekanisme Kerja Sleeve Gastrectomy
Pada prosedur paling populer yaitu Sleeve Gastrectomy, lambung dipotong sekitar 65%–70% menggunakan alat pemotong otomatis (stapler titanium). Bagian lambung tersisa dibentuk menyerupai tabung (gastric tube).
Dua mekanisme penting yang terjadi pasca-operasi:
- Mengecilkan Kapasitas Penampungan: Sisa lambung yang tinggal 30% membuat porsi makan berkurang drastis secara alami.
- Menekan Hormon Lapar (Grelin): Bagian lambung yang dibuang merupakan pusat sel penghasil hormon grelin (hormon penimbul nafsu makan). Dengan dibuangnya sel tersebut, dorongan nafsu makan pasien akan menurun signifikan.
Bariatrik vs Metabolik: Apa Bedanya?
Sering kali digabungkan menjadi bariatric and metabolic surgery, keduanya memiliki fokus penanganan yang berbeda:
- Bedah Bariatrik: Berfokus utama pada tolok ukur penurunan berat badan.
- Bedah Metabolik: Berfokus pada perbaikan sistem biokimia dan metabolik tubuh. Pada pasien dengan BMI sangat tinggi (di atas 40 atau 50), pemotongan lambung sering dikombinasikan dengan bypass usus. Panjang usus halus yang semula ~6 meter sebagian “diistirahatkan” sehingga daya serap nutrisi dan gula berkurang, yang berdampak positif pada kesembuhan diabetes.
Aturan Ketat Pasca-Operasi: 5 Pantangan & 4 Kewajiban
Bedah bariatrik bukan penentu kesuksesan mutlak jika tidak diimbangi perubahan gaya hidup. Untuk mencegah peningkatakan berat badan kembali (regain), dr. Erawan menerapkan aturan ketat bagi setiap pasien:
🚫 5 Pantangan Utama
- Merokok: Mengganggu penyembuhan dan memicu iritasi lambung.
- Minuman Beralkohol: Dapat merusak dinding lambung.
- Makanan Terlalu Pedas: Memicu peradangan pada lambung baru.
- Makanan Terlalu Asam: Mengganggu keseimbangan asam lambung.
- Minuman Berkarbonasi / Bergas: Gas membuat ruang lambung yang sempit menjadi kembung dan terasa sangat menyiksa.
💡 4 Kewajiban Seumur Hidup
- Rutin Berolahraga: Membakar kalori secara konsisten agar tidak menumpuk menjadi lemak.
- Konsumsi Vitamin Seumur Hidup: Mengingat porsi makan yang sedikit, asupan vitamin harian wajib dibantu suplemen.
- Konsultasi Diet & Ahli Gizi: Menerapkan pola makan tinggi protein, rendah lemak, dan rendah kalori.
- Banyak Minum Air Putih: Diminum sedikit-sedikit tetapi sering agar terhindar dari dehidrasi.
Tahapan Pola Makan Pemulihan Pasca-Operasi
Agar lambung baru yang dijahit titanium tidak mengalami beban berat, proses adaptasi makan dilakukan bertahap selama 1 bulan penuh:
- Minggu ke-1: Makanan Cair Murni (susu low fat, kaldu, jus tanpa gula).
- Minggu ke-2: Makanan Semi Cair (cream soup).
- Minggu ke-3: Makanan Lunak (bubur encer dengan lauk cincang).
- Minggu ke-4: Nasi Tim.
- Minggu ke-5 ke atas: Makanan Padat Biasa (porsi kecil, 6–8 kali sehari).
Realita Asuransi dan Harapan Bagi Pasien Obesitas
Tantangan terbesar dari prosedur ini di Indonesia adalah belum ditanggungnya bedah bariatrik oleh BPJS Kesehatan maupun asuransi swasta, karena masih dikategorikan sebagai operasi kosmetik.
Padahal, komponen biaya tinggi pada bedah bariatrik berasal dari alat medis canggih (stapler titanium single-use) yang masih harus diimpor.
“Tolonglah, ini bukan kosmetik. Bantu masyarakat yang membutuhkan, terutama kelompok menengah ke bawah yang sudah terengah-engah melawan penyakit komorbid akibat obesitas,” tutur dr. Erawan menaruh harapan besar pada kebijakan penjaminan kesehatan di Indonesia.
Kesimpulan
Bedah bariatrik bukanlah sarana instan untuk sekadar tampil menawan di depan kamera. Ini adalah keputusan medis besar yang memerlukan niat, disiplin, dan komitmen seumur hidup. Bagi penderita obesitas dengan risiko komorbid berat, bedah bariatrik hadir bukan untuk mengubah gaya luar tubuh semata, melainkan untuk memberikan kesempatan kedua dalam menjalani hidup yang lebih sehat.










