Bayangkan sebuah penyakit yang membunuh lebih dari 125.000 orang Indonesia setiap tahunnya — hampir 14 nyawa setiap jam — namun masih sering dianggap sebagai “penyakit lama” yang sudah bisa ditangani. Itulah wajah tuberkulosis (TBC) di Indonesia hari ini.
Berdasarkan laporan terbaru WHO, Indonesia menyumbang 10% dari seluruh beban TBC global, menempatkan negara ini sebagai penyumbang kasus terbesar kedua di dunia setelah India. WHO Bukan sekadar statistik — angka ini berarti sekitar 1,09 juta orang di Indonesia hidup dengan infeksi aktif yang bisa menular ke siapa saja di sekitar mereka: rekan kerja, anggota keluarga, hingga penumpang di kereta yang sama.
Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P(K), MHA, FIRS, pakar pulmonologi Indonesia, menegaskan bahwa TBC pada dasarnya bisa disembuhkan jika didiagnosis lebih awal dan diobati dengan tepat. Tapi justru di sinilah masalah sesungguhnya berakar.
Gunung Es yang Belum Kelihatan Puncaknya
Kementerian Kesehatan RI mencatat pada 2024 terdapat 889.000 notifikasi kasus TBC di Indonesia. Angka ini terdengar besar — dan memang besar. Namun jika dibandingkan dengan estimasi total beban penyakit yang mencapai lebih dari satu juta kasus, ada kesenjangan ratusan ribu orang yang kemungkinan besar belum terdeteksi, belum melapor, atau belum mendapat pengobatan.
Studi inventaris TBC nasional kedua di Indonesia yang dilakukan pada periode September–November 2023 menemukan bahwa tingkat underreporting kasus TBC yang terdeteksi masih berada di kisaran 15,6%, lebih baik dibanding studi pertama tahun 2017 yang mencatat angka 41%. WHO Kemajuan itu nyata, tapi masih jauh dari ideal.

Artinya, ratusan ribu orang di Indonesia kemungkinan saat ini membawa bakteri Mycobacterium tuberculosis yang aktif, tanpa menyadarinya. Mereka tetap bekerja, berinteraksi, dan tanpa disadari menjadi mata rantai penularan baru.
Data Kemenkes RI juga menunjukkan bahwa inisiasi pengobatan TBC sensitif obat baru mencapai 81%, masih di bawah target 90%, sementara keberhasilan pengobatan TBC resisten obat hanya 58%, jauh dari target 80% yang telah ditetapkan. Kemkes
Mengapa TBC Begitu Sulit Dikendalikan?
TBC bukan sekadar penyakit paru-paru. Ia adalah penyakit yang lahir dan tumbuh subur di dalam ketimpangan sosial.
Bakteri penyebabnya menyebar melalui udara — cukup dari satu kali batuk atau bersin penderita TBC aktif di ruang tertutup yang kurang ventilasi. Gejalanya pun datang perlahan: batuk kronis lebih dari dua minggu, demam ringan di sore hari, keringat malam, penurunan berat badan tanpa sebab jelas, dan lemas yang berkepanjangan. Gejala-gejala ini mudah diabaikan atau disalahartikan sebagai kelelahan biasa atau flu yang tak kunjung sembuh.
Faktor sosial memperparah segalanya. Hunian padat, gizi buruk, kemiskinan, mobilitas tinggi, akses layanan kesehatan yang belum merata, dan stigma sosial yang kuat — semua ini menciptakan kondisi ideal bagi TBC untuk bertahan. Tak heran jika penyakit ini secara tidak proporsional menyerang kelompok masyarakat yang paling rentan.
Masalah lain yang tak kalah serius adalah lamanya pengobatan. Terapi standar TBC membutuhkan waktu minimal enam bulan dengan konsumsi obat yang rutin dan ketat. Banyak pasien menghentikan pengobatan begitu gejala membaik, merasa sudah sembuh. Keputusan itu bisa berakibat fatal — bukan hanya meningkatkan risiko kambuh, tetapi juga membuka jalan bagi munculnya bakteri yang lebih kebal obat.
Ancaman Terbesar: TBC yang Tak Mempan Obat
Di antara berbagai tantangan pengendalian TBC, resistansi obat adalah yang paling mengkhawatirkan para ahli saat ini.
WHO menyebut TBC resisten obat sebagai krisis kesehatan masyarakat yang serius. Dari sekitar 400.000 orang yang diperkirakan mengembangkan TBC resisten ganda atau resisten rifampisin (MDR/RR-TB), hanya 44% yang berhasil didiagnosis dan diobati pada 2023. European AIDS Treatment Group Lebih dari separuhnya tidak tertangani.
Tingkat resistansi ganda tercatat 3,2% pada kasus baru dan melonjak hingga 16% pada pasien yang sebelumnya pernah diobati — menunjukkan bahwa penghentian terapi sebelum waktunya memiliki konsekuensi yang jauh lebih berat dari yang dibayangkan banyak orang. ScienceOpen
TBC resisten obat bukan hanya lebih sulit diobati — terapinya juga jauh lebih lama, lebih mahal, dan lebih berat secara fisik maupun psikologis bagi pasien. Sebelumnya, pengobatan MDR-TB bisa memakan waktu 18–24 bulan dengan suntikan harian. WHO kini mendorong rejimen oral yang lebih singkat untuk meningkatkan kepatuhan pasien, tapi perubahan pedoman saja tidak serta-merta mengubah kondisi di lapangan jika sistem deteksi masih lemah.
Bahaya lain yang tak boleh diabaikan adalah TBC pada kelompok rentan: anak-anak, lansia, penderita HIV, penderita diabetes, dan mereka yang mengalami malnutrisi. Pada kelompok-kelompok ini, TBC tidak berhenti di paru-paru — ia bisa menyebar ke otak (meningitis TB), tulang, ginjal, dan organ lain, dengan angka kematian yang jauh lebih tinggi.










