Beranda / Research / Obat Kanker Tak Selalu Seumur Hidup

Obat Kanker Tak Selalu Seumur Hidup

Woman holds pink ribbon for breast cancer awareness.

Bukti uji klinis multiple myeloma, Juli 2026

Medis360.id | Healthcare Intelligence
Penelitian: ENDURANCE
Jurnal: The New England Journal of Medicine
Terbit: 16 Juli 2026
Desain: Uji klinis fase 3
Obat: Lenalidomide
Penyakit: Multiple myeloma risiko standar

Obat kanker tidak selalu harus digunakan seumur hidup. Pada sebagian pasien, terapi dapat diberikan selama durasi tertentu lalu dihentikan apabila manfaat tambahan sudah kecil, efek samping meningkat, atau bukti penelitian menunjukkan bahwa penghentian terencana tidak memperpendek usia hidup.

Bukti terbaru berasal dari uji klinis fase 3 ENDURANCE yang diterbitkan pada Juli 2026. Penelitian ini menunjukkan bahwa pada pasien tertentu dengan multiple myeloma, terapi lenalidomide selama dua tahun menghasilkan kelangsungan hidup tujuh tahun yang serupa dengan terapi yang dilanjutkan tanpa batas waktu. pubmed.ncbi.nlm.nih

Penelitian ENDURANCE

Multiple myeloma adalah kanker sel plasma di sumsum tulang. Penyakit ini dapat menyebabkan nyeri tulang, anemia, infeksi berulang, gangguan ginjal, dan kadar kalsium tinggi.

Terapi awal dapat mengurangi jumlah sel kanker secara drastis, tetapi multiple myeloma sering tetap memerlukan pemantauan jangka panjang karena memiliki risiko kambuh. Lenalidomide kemudian diberikan sebagai terapi pemeliharaan, yaitu terapi lanjutan untuk menekan sisa penyakit.

Penelitian ENDURANCE melibatkan 516 pasien dengan multiple myeloma baru didiagnosis yang:

  • Memiliki risiko penyakit standar.
  • Tidak menjalani transplantasi sel punca autologus sejak awal.
  • Telah menyelesaikan terapi induksi.
  • Memenuhi syarat untuk menerima lenalidomide pemeliharaan.

Pasien dibagi menjadi dua kelompok:

  1. Lenalidomide terus-menerus sampai penyakit memburuk atau efek samping tidak dapat ditoleransi.
  2. Lenalidomide selama dua tahun, kemudian dihentikan.

Median masa pemantauan mencapai sekitar 86 bulan, atau lebih dari tujuh tahun. pubmed.ncbi.nlm.nih

Hasil utama

Kelangsungan hidup hampir sama

Pada tujuh tahun:

  • Kelompok terapi berkelanjutan: 68,6% pasien masih hidup.
  • Kelompok terapi dua tahun: 69,0% pasien masih hidup.

Masing-masing kelompok mencatat 80 kematian. Perbedaannya tidak bermakna secara statistik. Dengan demikian, terapi tanpa batas waktu tidak terbukti memberikan overall survival yang lebih baik dibandingkan terapi dua tahun pada populasi penelitian ini. pubmed.ncbi.nlm.nih

Temuan tersebut tidak berarti semua pasien dapat menghentikan lenalidomide setelah dua tahun. Hasilnya hanya berlaku pada kelompok pasien yang memiliki karakteristik serupa dengan peserta penelitian.

Terapi berkelanjutan cenderung menunda progresi

Terapi lenalidomide tanpa batas waktu menunjukkan kecenderungan memperpanjang progression-free survival:

  • Terapi berkelanjutan: sekitar 36,1% pasien bebas progresi pada tujuh tahun.
  • Terapi dua tahun: sekitar 29,7% pasien bebas progresi.

Namun, perbedaan tersebut tidak cukup kuat untuk membuktikan keunggulan terapi berkelanjutan secara statistik. reachrx

Artinya, obat yang diteruskan lebih lama mungkin menunda munculnya progresi, tetapi penundaan tersebut belum tentu membuat pasien hidup lebih lama secara keseluruhan.

Efek samping lebih banyak jika obat diteruskan

Efek samping nonhematologis tingkat 3 atau lebih tinggi terjadi pada:

  • 48,2% kelompok terapi berkelanjutan.
  • 31,5% kelompok terapi dua tahun.

Kanker kedua dalam lima tahun juga lebih banyak pada kelompok terapi berkelanjutan:

  • 11,2% pada terapi tanpa batas waktu.
  • 8,3% pada terapi dua tahun. reachrx

Hasil ini menunjukkan bahwa terapi jangka panjang memiliki harga biologis. Pasien mungkin memperoleh pengendalian penyakit yang sedikit lebih lama, tetapi menghadapi paparan obat, efek samping, dan risiko komplikasi yang lebih besar.

Mengapa terapi tidak selalu dilanjutkan?

Manfaat tambahan bisa mengecil

Pada awal pengobatan, obat dapat memberikan manfaat besar karena jumlah sel kanker masih dapat ditekan. Setelah pasien mencapai respons yang stabil, manfaat tambahan dari setiap bulan terapi berikutnya mungkin menjadi lebih kecil.

Pada kondisi seperti ini, dokter harus membandingkan tambahan manfaat dengan risiko toksisitas.

Efek samping dapat menumpuk

Efek samping tidak selalu muncul sekaligus. Sebagian berkembang perlahan, seperti gangguan darah, kelelahan kronis, gangguan saraf, infeksi, atau gangguan fungsi organ.

Pasien yang awalnya mampu menoleransi obat selama enam bulan belum tentu tetap mampu menggunakannya selama bertahun-tahun.

Kualitas hidup juga merupakan hasil pengobatan

Tujuan pengobatan kanker bukan hanya memperpanjang usia, tetapi juga mempertahankan kemampuan pasien untuk beraktivitas, bekerja, tidur, makan, dan berinteraksi dengan keluarga.

Jika terapi tidak lagi memberikan manfaat survival yang jelas tetapi terus menurunkan kualitas hidup, penghentian terencana dapat menjadi pilihan medis yang rasional.

Risiko kanker kedua dan komplikasi

Paparan obat yang lebih panjang dapat meningkatkan risiko komplikasi tertentu. Pada penelitian ENDURANCE, angka kanker kedua lebih tinggi pada kelompok yang menerima lenalidomide tanpa batas waktu.

Temuan ini tidak berarti lenalidomide harus dihindari. Artinya, manfaat terapi perlu ditimbang terhadap risiko jangka panjang.

Terapi berikutnya masih tersedia

Ketika pasien mengalami progresi setelah terapi pemeliharaan dihentikan, dokter dapat mempertimbangkan terapi lain. Ketersediaan pilihan berikutnya menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan apakah terapi perlu dilanjutkan tanpa batas.

Namun, tidak semua kanker memiliki pilihan terapi lanjutan yang sama. Karena itu, hasil penelitian multiple myeloma tidak dapat diterapkan begitu saja pada kanker paru, kanker payudara, kanker kolorektal, atau kanker lainnya.

Apakah semua obat kanker boleh dihentikan?

Tidak. Durasi terapi bergantung pada jenis obat dan tujuan penggunaannya.

  • Kemoterapi: sering diberikan dalam jumlah siklus tertentu, misalnya empat sampai delapan siklus.
  • Terapi target: pada kanker metastatik sering diberikan sampai penyakit memburuk atau efek samping tidak dapat diterima.
  • Imunoterapi: sebagian protokol menetapkan durasi tetap, misalnya satu atau dua tahun, tetapi keputusan berbeda menurut jenis kanker dan hasil penelitian.
  • Terapi hormonal: dapat diberikan selama bertahun-tahun pada sebagian kanker payudara atau prostat.
  • Terapi pemeliharaan kanker darah: dapat diberikan terus-menerus atau dalam durasi tetap, bergantung pada risiko penyakit dan respons pasien.

Studi analisis terhadap uji registrasi obat kanker juga menemukan bahwa banyak penelitian merencanakan terapi “tanpa batas waktu”, tetapi durasi terapi yang benar-benar diterima pasien sering jauh lebih pendek. Temuan ini mendukung perlunya lebih banyak uji klinis yang secara langsung membandingkan durasi pendek dan durasi panjang. pubmed.ncbi.nlm.nih

Kapan penghentian dapat dipertimbangkan?

Dokter biasanya menilai:

  • Jenis dan stadium kanker.
  • Risiko kekambuhan.
  • Kedalaman respons.
  • Hasil CT scan, MRI, PET scan, atau pemeriksaan molekuler.
  • Lama penyakit dalam kondisi stabil.
  • Efek samping.
  • Fungsi hati, ginjal, jantung, dan sumsum tulang.
  • Ketersediaan terapi lain bila penyakit kambuh.
  • Preferensi pasien mengenai kualitas hidup dan beban terapi.

Penghentian terapi harus disertai rencana pemantauan. Pasien mungkin perlu menjalani pemeriksaan darah, pencitraan, atau pemeriksaan biomarker secara berkala.

Yang penting, penghentian terencana berbeda dari berhenti minum obat secara sepihak. Penghentian mandiri dapat membuat kanker tidak terpantau dan menghilangkan kesempatan dokter melakukan intervensi lebih awal.

Analisis

Uji ENDURANCE menunjukkan bahwa terapi berkelanjutan tidak selalu menghasilkan usia hidup yang lebih panjang. Pada pasien multiple myeloma risiko standar yang tidak menjalani transplantasi awal, lenalidomide selama dua tahun memberikan overall survival tujuh tahun yang hampir sama dengan terapi tanpa batas waktu.

Di sisi lain, terapi tanpa batas waktu lebih banyak menimbulkan efek samping berat. Ini menunjukkan bahwa keberhasilan terapi kanker harus dinilai melalui beberapa ukuran sekaligus:

  1. Apakah kanker lebih lama terkendali?
  2. Apakah pasien hidup lebih lama?
  3. Apakah pasien memiliki kualitas hidup yang lebih baik?
  4. Berapa besar efek samping dan risikonya?
  5. Apakah terdapat terapi lain jika penyakit kambuh?

Jawaban atas pertanyaan tersebut dapat berbeda antara satu pasien dan pasien lain. Karena itu, istilah “obat kanker seumur hidup” terlalu umum. Sebagian pasien memang memerlukan terapi jangka panjang, tetapi sebagian lainnya dapat menjalani terapi berdurasi tetap dengan pemantauan ketat.

Kesimpulan

Penelitian ENDURANCE yang diterbitkan pada Juli 2026 menunjukkan bahwa lenalidomide selama dua tahun dapat memberikan overall survival tujuh tahun yang serupa dengan terapi tanpa batas waktu pada pasien multiple myeloma risiko standar tertentu. Terapi berkelanjutan memang cenderung menunda progresi, tetapi juga menimbulkan lebih banyak efek samping berat dan risiko kanker kedua. pubmed.ncbi.nlm.nih

Kesimpulan utama: obat kanker tidak selalu harus diminum seumur hidup. Durasi terapi harus ditentukan berdasarkan bukti penelitian, karakteristik tumor, respons pasien, risiko kekambuhan, efek samping, dan kualitas hidup.

Catatan editorial: Jangan menghentikan obat antikanker tanpa persetujuan dokter spesialis onkologi. Hasil penelitian ini terutama berlaku untuk kelompok pasien multiple myeloma yang diteliti dan tidak otomatis berlaku untuk semua jenis kanker.

Tag: